SMA NEGERI 2 BREBES

Jl. Ahmad Yani No.77, Brebes, Kec. Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah 52212, Telp : 0283-671060

"VIDYA DHARMA CISYASANGHA"

Sumpah Pemuda Komitmen NKRI atau Sebatas Deklarasi?

Rabu, 05 Mei 2021 ~ Oleh SMA N 2 BREBES ~ Dilihat 480 Kali

               Sumpah Pemuda Komitmen NKRI atau Sebatas Deklarasi?

(Oleh: Lutfatul Amanah, X IPS 2)

 

Indonesia adalah negara kepulauan yang kaya akan perbedaan. Menurut Deputi Kedaulatan Maritim Kementrian Koordinator Bidang Kemaritiman, Indonesia memiliki sekitar 17.504 pulau dimana antara satu pulau dengan pulau lainnya memiliki perbedaan diberbagai aspek seperti suku, agama, kebudayaan, bahasa daerah, dan lain sebagainya. Banyaknya perbedaan tersebut dapat menjadi kelebihan bangsa Indonesia karena bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan mancanegara dan menjadi ciri khas atau pembeda antara  Indonesia dengan negara-negara lainnya. Namun karena perbedaan itu pula Indonesia menjadi rentan akan konflik dan perpecahan. Data terbaru dari hasil survey penduduk antar sensus (supas) jumlah penduduk Indonesia pada 2019 mencapai lebih dari 267 juta jiwa, dengan lebih dari 63.82 juta jiwa diantaranya adalah pemuda. Pemuda merupakan tonggak dan penentu masa depan sebuah bangsa. Perbedaan dan pemuda adalah dua hal yang rasanya bisa mendefinisikan kata Indonesia itu sendiri. Kedua hal itu layaknya pisau, jika digunakan dengan baik maka akan memberi keuntungan dan sebaliknya, jika salah menggunakannya maka akan berakibat fatal. Berbicara mengenai perbedaan dan pemuda, ini juga mengingatkan saya ke sebuah peristiwa pada 92 tahun silam tepatnya pada tanggal 28 oktober 1928, dimana pada saat itu para pemuda tanah air dari berbagai daerah berkumpul di Batavia (Jakarta) untuk mendeklarasikan dengan lantang sumpah pemuda yang berbunyi:

“Pertama : Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia. Kedua : Kami poetra dan poetri Indonesia, mengaku berbangsa satoe, bangsa Indonesia. Ketiga : Kami poetra dan poetri Indonesia, menjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”

Sumpah pemuda lahir dari pemikiran anak muda bangsa yang memiliki latar belakang berbeda, namun merasa sebagai satu kesatuan hingga akhirnya saling berkomitmen untuk menghargai perbedaan tersebut dan menjunjung tinggi persatuan. Jika melihat ke arah pemuda zaman sekarang, rasanya banyak sekali konflik yang terjadi karena alasan perbedaan. Hal ini tentu saja bertentangan dengan nilai-nilai sumpah pemuda. Pertanyaannya apakah sumpah pemuda sekarang hanya dianggap sebagai wacana, sebuah deklarasi lama yang hanya dipelajari dalam sejarah, dan bukan untuk diterapkan sebagai pedoman dalam berperilaku sehari-hari?

 Sangat membahayakan apabila hal itu benar-benar terjadi, terutama di zaman yang serba canggih ini dimana semua orang bisa bebas berpendapat, informasi sangat mudah untuk didapatkan, dan disediakan ruang untuk bisa berdiskusi tanpa adanya batasan jarak dan waktu. Namun sayangnya, banyak dari mereka yang tidak mengerti bagaimana caranya beretika dalam menggunakan sosial media karena berfikir bahwa itu hanya sebatas alat atau sistem. Meskipun sosial media hanyalah alat atau sistem, namun dibalik itu pasti ada manusia yang mengendalikannya. Berita hoaks dan seruan untuk memecah belahkan bangsa juga tidak sedikit dibagikan dihalaman media sosial kita. Selain etika dalam bersosial media, hal lainnya yang perlu menjadi perhatian khusus dari pemuda adalah adanya krisis identitas. Pada usia remaja, seseorang cenderung masih mengikuti arus pergaulan tanpa memiliki komitmen dan alasan yang kuat mengapa ia melakukan sesuatu. Mereka cenderung meniru apa yang sedang menjadi trend saat ini tanpa berfikir ulang apakah itu akan memberi dampak baik atau buruk kedepannya baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Hal ini bisa berdampak positif apabila arus yang mereka ikuti adalah arus pergaulan yang postif dan membangun, namun akan menjadi berbahaya apabila arus yang diikuti adalah arus pergaulan yang negatif. Ini semua akan sangat berdampak bagi pembentukan pola pikirnya saat mereka dewasa dan akan menjadi dasar dalam mereka mengambil sebuah keputusan atau tindakan.

Dalam hal pendidikan krisis identitas juga akan berdampak pada prestasi dan semangat belajar mereka. Pemuda yang sudah tau arah dan tujuannya, apa yang ia akan lakukan nanti dimasa depan cenderung lebih berprestasi dan semangat dalam belajar. Namun jika pemuda belum tau identitas dirinya seperti apa tujuan yang ingin dia capai dan alasan mengapa ia harus belajar maka mereka akan bermalas-malasan dan akhirnya menciptakan konflik-konflik baru seperti mencontek, tawuran, dan juga vandalisme.

Untuk menjadikan pemuda Indonesia sebagai pencipta dan penggerak serta pelaksana dalam melakukan perubahan positif maka yang perlu dilakukan adalah dengan meneruskan perjuang para pahlawan dan tetap menjadikan sumpah pemuda sebagai dasar dalam berperilaku sehari-hari.  Menganggap itu sebagai komitmen sampai kita mati, bukan hanya wacana yang menjadi pelengkap literasi mata pelajaran sejarah atau hafalan tugas semata. Cara menanamkan jiwa sumpah pemuda adalah dengan mengetahui tujuan dan komitmen diri sendiri. Ketika para pemuda sudah mengenal dirinya sendiri dan tau apa tujuan hidup mereka, mereka akan dapat dengan mudah memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Potensi itu kemudian diarahkan dengan tepat agar dapat bersaing di kompetisi internasional. Cara agar dapat menemukan potensi diri adalah salah satunya dengan  mencoba banyak hal. Selama hal itu positif dan tidak merugikan orang lan tidak ada salahnya untuk mencoba, masalah gagal atau berhasil itu dua hal yang berbeda. Kuncinya adalah mau untuk memulai. Benar sekali jika keberanian berperan sangat penting disini. Pemuda dan keberanian adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, muda artinya berani. Begitu kira-kira aturan tak tertulis yang melekat pada jiwa pemuda. Pemuda itu harus berani, berani untuk mencoba hal-hal baru, berani untuk memulai suatu perubahan, dan berani untuk menyuarakan pendapat. Selama apa yang dilakukan tidak merugikan orang lain, maka tidak perlu takut untuk mencoba banyak hal. Selain menjadi pemuda yang aktif disosial media, pemuda juga harus aktif didalam masyarakat maupun komunitas-komunitas yang dapat menjadi wadah

untuk kreativitas pemuda yang tak terbatas. Agar potensi yang mereka miliki bisa diarahkan dengan maksimal. Jika bakat-bakat pemuda ditempatkan sesuai dengan apa yang seharusnya, maka hal itu akan berdampak sangat baik. Bahkan, bisa memperkenalkan sekaligus mengharumkan nama Indonesia dimata dunia.

Harapan saya, pemuda Indonesia saat ini yang akan mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia di tahun 2045 tepat setelah 100 tahun Indonesia merdeka. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada kisaran tahun 2030 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Bonus demografi terjadi ketika penduduk usia muda yang produktif lebih tinggi dari balita dan lansia. Hal ini akan dapat sangat menguntungkan jika pemuda-pemuda generasi penerus bangsa ini cerdas, berfikiran terbuka, dan berdaya saing global. Ekonomi negara akan semakin meningkat dan angka kemiskinan akan menurun. Sebaliknya, jika pemuda generasi penerus bangsa ini adalah pemuda yang tidak peduli akan pendidikan, isu sosial, maupun masa depan dirinya dan bangsanya, maka bonus demografi akan berubah menjadi bencana demografi. Perubahan yang besar dapat dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten. Dan saya percaya jika pemuda dan semua orang di Indonesia memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan. Semua perubahan untuk sampai pada cita-cita bangsa, dimulai dari diri kita sendiri apa yang kita lakukan hari ini.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT